YOASOBI – Halzion
YOASOBI – Halzion

YOASOBI – Halzion

RomanjiEnglishBahasa Indonesia
Sugite yuku
Toki no naka
Anata wo omoidasu
Mono uge ni
Nagameru gamen ni
Utsutta futari
Waratteita

Shiritakunai hodo
Shirisugiteku koto
Tada sugiru hibi ni
Nomikomareta no
Sore demo tada
Mou ichido dake
Aitakute

Anata no kotoba ni
Unazuki shinjita
Watashi?wo
Hitori?okizari?ni
Toki wa?sugiru
Mieteita hazu?no
Mirai mo
Yubi no sukima wo
Surinuketa
Modorenai hibi no
Kakera to
Anata no kehai wo
Ima demo
Sagashite shimau yo
Mada ano hi no futari ni
Te wo nobashiteru

Kyoukaisen wa
Jibun de hiita
“Genjitsu wa” tte
Minai furi wo shite ita
Sonna watashi ja
Mienai mienai
Kyoukaisen no mukou ni saita
Senretsu na hanatachi mo
Hontou wa
Mieteta noni

Shirazu shirazu no uchi ni
Suri herashita
Kokoro no tobira ni
Kagi wo kaketa no
Soko ni wa
Tada utsukushisa no nai
Watashi dake ga nokosarete ita

Ao sugiru sora ni
Me no oku ga shimita
Ano hi no keshiki ni
Tori ni kaeru no
Anata ga suki da to
Itte kureta watashi wo

Dare ni mo
Misezu ni
Kono te de
Kakushita omoi ga
Ima mo
Watashi no naka de
Ikiteru
Me wo tojite mireba
Ima mo azayaka ni
Yomigaeru keshiki to
Modorenai hibi no
Kakera ga
Utsushidashita no wa
Tsubomi no mama
Tojikometa mirai
Mou ichido egakidasu

Ano hi no
Anata no kotoba to
Utsukushii toki to
Futari de sugoshita
Ano keshiki ga
Wasureteta omoi to
Nakushita hazu no
Mirai wo tsunaideiku
Modorenai hibi no
Tsuzuki wo
Aruite yuku nda
Kore kara mo,
Anata ga inakute mo
Ano hi no futari ni
Te wo fureba
Tashika ni
Ugokidashita
Mirai e

In the midst of
passing time,
I remember you
I listlessly looked
at the screen
reflecting the two of us
who were laughing

The more I don’t want to know,
the more I knew too much
Just swallowed up
by the passing days
But still,
just for once,
I want to see you

You left me alone
who just nodded
believing in your words
Time flies
Even the future
I should be able to see,
has escaped through
the gap of my fingers
Even now,
I ended up looking
pieces of days
that can’t be returned
and traces of your presence
I’m still reaching out
to the two of us
of that day

I drew
the boundary line by myself
I also pretend
I don’t see how “Reality is”
That kind of me,
is never existed, I didn’t see it
But to be honest,
I could see
flowers blooming beautifully
beyond the boundary line

I’ve locked
the door of my heart
that unconsciously
wearing away
All that’s left there
was me
who has no beauty

My inner eyes was pierced
by the too blue sky
I’ll return
the scenery of that day
Myself who ever said
that I like you

Without showing it
to anyone,
the feeling I hid
with this hand,
is still alive within me
When I try
to close my eyes,
even now,
something reflected
by the vividly
reviving scenery
and the fragments
of the days
that cannot be returned
is a still bud locked future
I’ll imagine it once again

Your words of that day,
the beautiful times
and also the scenery
we spent together
will continue to connect
the forgotten feelings
and the future
that supposed to be lost
I’ll walk to the sequel
of the days
that cannot be returned
From now on,
even if without you,
when I wave my hand
at the two of us of that day,
I’ll definitely
start to move
towards the future.

Di tengah waktu
yang kian berlalu,
kuterkenang akan dirimu
Di layar yang kupandangi
dengan letih,
terpantul kita berdua
yang sedang tertawa

Semakin kutak ingin tahu,
semakin kujadi terlalu tahu
Hanya tertelan oleh
hari-hari yang berlalu
Meskipun begitu,
hanya untuk sekali saja,
kuingin berjumpa denganmu

Kau meninggalkanku sendiri
Diriku yang mengangguk
percaya pada kata-katamu
Waktu pun berlalu
Masa depan yang seharusnya
bisa kulihat pun,
lolos begitu saja
melalui jarak antar jemariku
Hingga sekarang pun,
kumasih terlanjur mencari
kepingan hari-hari yang
tak bisa dikembalikan lagi
dan jejak kehadiranmu
Kumasih mengulurkan tangan
pada sosok kita berdua
di hari itu

Kutarik sendiri
garis pembatas
Aku pun berpura tak melihat
bagaimana “Kenyataan itu”
Diriku yang semacam itu,
tak pernah ada, tak terlihat
Meski sesungguhnya
kubisa melihat bunga-bunga
yang mekar bersemi dengan indah
di seberang garis pembatas

Kutelah mengunci
pintu hati
yang tanpa kusadari
semakin mengelupas
Yang tersisa di sana
hanyalah diriku
tanpa sedikit pun keindahan

Bagian dalam mataku tertusuk
oleh langit yang terlalu biru
Aku akan mengembalikan
pemandangan hari itu
Diriku yang pernah mengatakan
bahwa aku menyukaimu

Tanpa menunjukkannya
kepada siapapun,
rasa yang kusembunyikan
dengan tangan ini,
hingga sekarang pun
masih hidup di dalam diriku
Ketika kucoba memejamkan mata,
hingga sekarang pun,
yang dipantulkan oleh
pemandangan yang hidup kembali
dengan begitu jelas
dan juga kepingan hari-hari
yang tak bisa dikembalikan lagi
adalah masa depan terbelenggu
yang masih berwujud kuntum
Akan kubayangkan sekali lagi

Kata-katamu di hari itu,
masa-masa yang indah
dan juga pemandangan
yang telah kita lalui berdua
akan terus menghubungkan
rasa yang pernah terlupa
dan masa depan
yang seharusnya telah sirna
Ku ‘kan terus menapaki
kelanjutan hari-hari
yang tak bisa dikembalikan lagi
Mulai sekarang pun,
meski tak ada dirimu,
tapi ketika kulambaikan tangan
pada sosok kita berdua di hari ini,
aku pun dengan pasti
mulai bergerak
menuju masa depan